Abis lihat-lihat status
Superman Is Dead di
FanPage resminya
Eh..nemu Tautan menarik yang di
share oleh
SID...setelah saya
"klik" ternyata tulisanya benar-benar
inspirasional tentang
Punk,
Ayo........Lets Rockin!!!
Making Punk A Threat Again
Sebelum saya berpanjang-panjang menulis
posting tak penting ini, saya nyatakan dulu satu hal yang pasti: saya seperti kawan-kawan kebanyakan, tak sepakat dengan
fenomena razia, pemukulan,penggundulan dan bentuk pelecehan lainnya yang dilakukan oleh polisi syariah di Aceh. Tak ada manusia yang layak diperlakukan demikian hanya karena
stigma yang datang dari penampakan dan perilaku yang tidak sesuai
"konon" dengan
adat/norma setempat.
Tapi ada beberapa catatan yang baiknya saya mulai dengan yang pertama;
kasus ini tidak sesederhana yang media gembar-gemborkan. Ada
kompleksitas tersendiri dimana sulit dipahami oleh awam yang tidak sempat berada di dalam
scene punk dimanapun. Tidak juga oleh
Propagandhi atau
Rancid yang memberikan pernyataan mereka. Indikator sederhananya sebut saja satu;
Tidak adanya aksi solidaritas di tataran Aceh juga menimbulkan pertanyaan. Banyak faktor memang, kondisi yang tak memungkinkan misalnya. Namun dari perbincangan dengan beberapa kawan, nampaknya faktor keterasingan komunikasi dan ketidakkesepakatan atas aksi-aksi
kultural komunitas lah yang menjadi penyebab.
Saya yakin, terdapat banyak kawan-kawan
Punk di Aceh sana sejak rezim
Suharto berakhir, bahkan saya yakin
scene di
Aceh sudah mulai ada dan luar biasa aktif di penghujung
90-an dan awal
2000-an. Tidak hanya karena keadaan tidak mengizinkan lalu mereka tidak melakukan sesuatu, apalagi hanya sekedar
aksi solidaritas.
Jika dahulu tidak pernah ada masalah dengan masyarakat lalu mengapa tidak juga sekarang? Oke, faktor
polisi syariah, tapi saya yakin bukan hanya itu. Pasti ada sesuatu. Paling tidak saya bisa berkaca pada keadaan di kota kami sendiri dimana
‘Punk’ bukan lagi sesuatu yang harus dibela sebagai
IDENTITAS, namun lebih sebagai
SEMANGAT. Banyak kawan-kawan yang tidak mengidentikkan lagi
‘punk’ sebagai identitas sejak penampakan itu dipakai dengan sesuatu yang tidak kami sepakati, mulai dari
mohawk yang menjadi trend fashion yang ngga banget
(band-nya Ahmad Dhani misalnya) hingga wujud
‘punk’ yang berkeliaran disudut kota sebagai pengamen
(sejak kapan punk meminta belas kasihan?) dan memalak orang,
apatis terhadap pergulatan komunitas sekitarnya, termasuk menjadi
fasis geng yang sungguh sama sekali tidak ‘punk’.
Saya tidak bilang kondisi di sana serupa, namun yang pasti ada jarak pada pemaknaan aktivitas diantara kawan-kawan yang aktif dengan makna ‘punk’ satu dan makna ‘punk’ lainnya.
Catatan lainnya cukup mengagetkan sebenarnya, mengingat ini terjadi pada komunitas yang mengidentifikasikan diri dengan kata dan makna
‘PUNK’. Catatan yang agaknya perlu sama-sama kita renungkan mengingat menjadi
‘punk’ adalah sebuah pilihan yang
bukan tanpa resiko apapun makna yang kalian tempelkan disitu. Dimana pilihan itu sudah seharusnya datang dengan
konsekuensi yang sudah diperkirakan, dimana -layaknya sebuah pilihan- harus
dipertahankan oleh mereka-mereka yang yakin dengan pilihannya. Sehingga menjadi cengeng saat
konsekuensi itu datang sangatlah aneh.
Lepas dari beberapa catatan usai berkomunikasi dengan beberapa kawan di
Aceh sana perihal
fenomena ini, ada sesuatu yang agak
absurd. Lagi-lagi dengan catatan; ini terjadi dengan mereka yang
"mengaku Punk", bukan sebuah ke-
profesian khusus lain (misalnya tukang baso) yang tidak ada makna-makna pembangkangan khusus melekat didirinya.
Pertama; Saya tak melihat adanya perlawanan
signifikan dari mereka yang di-
razia plus plus itu kemarin. Pada sebuah potret mereka
digunduli, dimasukan ke kolam dengan
"nerimo". Cukup aneh sebagai penerimaan atas nasib, bukankah kawan-kawan sudah seharusnya
melawan jika memang itu semua adalah pilihan hidup yang kalian pilih, bukankah kawan-kawan sepakat bahwa hidup kalian adalah milik kalian yang tak ada seorangpun bisa
mendiktenya kecuali tentunya kawan menjadi
punk hanya pilihan
dilematis dari sedikitnya pilihan menjadi diri sendiri. Mungkin saya salah, mungkin kawan-kawan disana melawan seadanya, namun saya melihat kawan-kawan masih sehat walafiat, masih bisa berdiri dan, ajaibnya, rela masuk
kamp rehabilitasi.
Jika konon menjadi diri sendiri itu sama pentingnya dengan mempertahankan isi perut, mengapa untuk sekedar kebebasan berekspresi yang melekat pada tubuh kawan-kawan disana tidak bisa mencontoh mereka yang berjuang hidup mati untuk isi perut mereka. Dari
Kebumen hingga
Mesuji bertebaran
tauladan bagaimana mempertahankan sesuatu yang berarti penting bagi hidup kita. Kecuali memang arti itu tak sepenting yang kita perkirakan.
Catatan terakhir; soal respon
‘punk’ yang sungguh pula aneh untuk ukuran
scene yang besar dengan tradisi melawan otoritas. Melakukan aksi
solidaritas itu penting. Berguna untuk menunjukkan
eksistensi dan
simpati lintas
komunitas dan mengirim sinyal kepada mereka yang ditahan bahwa mereka tidak sendirian. Namun melakukan aksi yang mirip
aksi-aksi usang ala mahasiswa, dengan
mendatangi kantor kepolisian atau simbol-simbol kekuasaan, lengkap dengan
statement seolah mereka adalah institusi yang layak diakui adalah sesuatu yang
absurd. Jika letak pentingnya aksi
solidaritas hanya untuk mengakui betapa pentingnya mereka sehingga harus kita datangi sekalipun untuk kita protes, maka
sama artinya kita mengakui bahwa eksistensi kita berada ditangan mereka dan kita memelas meminta mereka untuk tidak berlaku tidak adil pada kita. Secara tidak langsung menunjukkan pada khalayak seolah perubahan akan terjadi jika kita memintanya pada
otoritas. Sesuatu yang sama-sama kita sepakati sejak lama; tak akan pernah terjadi.
Bukankah selalu ada
alternatif lain selain mendatangi
otoritas dan meminta mereka berhenti melakukan pelanggaran? dan siapa pula
target (aksi) komunikasi kita? apakah
otoritas? atau masyarakat lain yang sebenarnya lebih layak kita ajak dialog perihal
eksistensi kita (jika memang inti aksi ini melempar wacana soal perbedaan).
Yang paling menggelikan adalah aksi seminggu kemarin yang terjadi di
Bandung, dimana sekelompok
‘anak punk’ (ow em ji!!!, i hate that fukkin term!!!) mendatangi
Polresta dengan
statement-statement yang
oxymoron. Mulai dari penamaan elemen aksi mereka; Masyarakat Punk Bandung (
oh dewa marmot, ampuni kami!!) hingga pernyataan kepada kepolisian seolah
punk memelas untuk dimengerti; “Kami hanya pakaian dan rambut yang
dinilai urakan. Hati dan perilaku tetap santun dan soleh.” ,
(cmon dude, do you really have to say that to fuckin cops???)
Meminta masyarakat
Bandung tidak terlalu
apriori terhadap komunitas
‘punk’ pun sama
oxymoron-nya. Karena penerimaan tidak terletak pada kata-kata, namun pada
pembuktian dari hari ke hari dimana
komunitas terlibat dalam pergulatan masyarakat dalam membangun pilar-pilar kehidupan bersama.
Berkoar-koar berteriak didepan masyarakat tentang bagaimana hebatnya
punk, tidak membuat kalian menjadi punk dan kemudian diterima diluar sana.
Buatlah band, buat gigs, rilis rekaman kalian, buatlah zine dan media kalian sendiri, berjejaringlah, jaga teman kiri-kanan dan keluarga kalian, bangun kemandirian komunal, organisirlah komunitas kalian, bergabunglah dengan mereka yang tidak beruntung di hidup ini, lawan otoritas yang menindas tanpa pandang bulu, bersenang-senanglah dengan passion kalian. Meski diluar sana kenyataan tak sesederhana itu, tapi paling tidak;
at least those are things that make you punks. Berhentilah mengemis
legalitas dan
penerimaan.
Respect is not a gift, its something you earn.
Terakhir, mengutip orasi sang
orator lapangan;
“Silakan bapak polisi geledah tas anak Punk. Tak sedikit dari mereka isinya sajadah dan kopiah untuk alat sholat. Kami masih berfikiran sehat, pak polisi,” tegasnya.
Wait the fuck up…!!! jadi dengan kata lain mereka yang tak memiliki alat sholat itu tidak berfikiran sehat dan layak diperlakukan tidak adil? Lagipula -tanpa mengesampingkan
fakta banyak kawan-kawan yang religius, bukankah simbol-simbol
‘kepribadian berakhlak’ ala maisntream adalah sesuatu yang kita lawan? Bukankah inti menjadi
punk itu mengingatkan kita untuk meyakini pilihan kita sendiri? apapun itu, religius atau tidak,
stand up for what you believe in!
Apapun yang kawan-kawan yakini, jalani
keyakinan kalian dengan kepala tegak.
"Tak ada aturan bahwa menjadi punk harus menjadi atheis", jadi jalani lorong
spiritualitas kalian, peduli setan apapun yang orang katakan. Begitu pula sebaliknya, jika kalian yakin bahwa menjalani hidup tanpa keimanan bisa menjadikan kalian nyaman dengan apa yang kalian hadapi, mengapa pula harus mendengar petuah yang kalian sendiri tak yakini, termasuk masuk ke kamp rehabilitasi. Diluar sana, gonjang-ganjing ini mengerucut pada debat tak berujung dan
stigmatisasi baik pada
‘Punk’ maupun
‘Islam’ (yang direpresentasikan polisi syariah). Jangan terperangkap di wilayah itu,
menjadi punk bukan kriminal, dan tidak pula menjadi seorang muslim yang di beberapa pojokan diluar sana diperlakukan mirip kasus di
Aceh. (Beberapa situs
diskriminatif anti-toleransi mempergunakan isu Punk Aceh ini untuk mendiskreditkan Islam). Selama menjadi
minoritas, akan selalu ada waktu dimana kalian melewati
hari-hari cadas. Yang pasti sekali lagi; menjadi cengeng sama sekali tidak
punk dalam menerima konsekuensi.
Fight for it!!!
Akhirul kalam, mengemis penerimaan pada
otoritas bukanlah sesuatu yang menyebabkan
punk eksis di muka bumi.
Now i sound too politicaly-correct, But fuck it, Lets make punk a threat again. Up the punx!
oleh Ucok Homicide
Original Post by: http://www.gutterspit.com/2011/12/25/making-punk-a-threat-again/
Sebenarnya kembali lagi pada kita sendiri mau punk,reggae,rock,metal atau apapun..itu kan hanya komunitasnya saja..buktikan bahwa komunitas kalian itu bermanfaat,dan tidak mengganggu ketenangan masyarakat...sejak kapan ada aturan bahwa menjadi punk itu harus atheis,jadi punk itu harus berambut mohawk,jadi reggae itu harus gimbal,jadi rock itu harus pearching-an???
Kembali lagi pada diri kita...
Jika kawan-kawan sudah menentukan sebuah pilihan,maka yakinilah pilihan itu...!!!
Sekian dulu dari saya...
Semoga Bermanfaat...